Thursday, May 12, 2022
HomeRagamNILAI DIBALIK SEHELAI KAIN BESUREK

NILAI DIBALIK SEHELAI KAIN BESUREK

Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan karya wastra dan tersebar di seluruh Indonesia. Kekayaan bangsa tentu harus dipertahankan di tengah era globalisasi dan gempuran teknologi yang dapat memungkinkan segala sesuatu yang bisa dikerjakan dengan tangan. Kita perlu menyikapi kerajinan wastra dengan bijak karena keterampilan menenun atau membatik diibaratkan emas. Jangan Sampai emas tersebut diambil oleh bangsa lain dan lebur karena dahsyatnya teknologi.

Salah satu kota bersejarah di Indonesia yaitu Bengkulu juga memiliki wastra yang bisa menjadi identitas daerah yaitu Kain Besurek. Kain ini menampilkan gambar huruf arab gundul. Banyak cerita sejarah asal muasal tentang kain ini, ada yang menjelaskan bahwa kain tersebut merupakan bagian sejarah perjuangan peninggalan Sentot Alibasyah saat melawan tahanan. Melalui sehelai kain yang ditulis dengan huruf Arab gundul Beliau memimpin pasukan melawan Penjajah. Ada juga yang menceritakan bahwa Kain Besurek memperkenalkan pertama kali oleh pedagang Arab dan pekerja India pada abad 17 kepada masyarakat Bengkulu. Dalam perkembangannya, kain Besurek menjadi bagian dari masyarakat Bengkulu seperti digunakan untuk acara kematian, kelahiran, dan pernikahan. Namun, apapun cerita sejarahnya yang pasti Besurek memang lahir di Kota Bengkulu.

Sebelumnya Saat ini Banyak pengrajin kain Besurek menuangkannya hearts Bentuk Batik. Berdasarkan data Dinas Koperasi PPKM Kota Bengkulu, Batik Besurek mulai diproduksi para perajin sejak tahun 1988. Adalah pasangan Elly Sumiati dan Doni Roesmandai merupakan dua perajin Batik Besurek yang merupakan pelopor batik Besurek di Bengkulu. Namun, pengrajin batik asli besurek saat ini berkurang karena jumlahnya sudah banyak yang lanjut. Kondisi ini tentu akan menggerus keberadaan Kain Besurek dan mengurangi orisinalitasnya karena kurangnya dorongan yang mendorong pelaku usaha untuk membuat Batik Besurek di Jawa atau diprint menggunakan mesin.
​Membuat batik dengan menggunakan mesin tentu akan menghilangkan jiwa dalam sehelai kain, karena hasil karya kreatif manusia tidak dapat dibandingkan dengan mesin, karya tangan tentu memberikan nilai tersendiri sebuah kain, jiwa pengrajinnya ikut dalam kain baik saat suka maupun duka, dibuat secara detail dan penuh kesabaran. Untuk mempertahankan orisinalitas nilai sudah saatnya mengubah cara pandang kita terhadap wastra Besurek tidak selalu berpikir ekonomis semata, tapi juga mendukung para seniman Kain Besurek agar tetap tekun berkarya.
​Dukungan pemerintah dan berbagai instansi dalam mempertahankan kain Besurek tentu harus didukung oleh masyarakat yang mencintai Besurek hasil karya tangan pengrajin Bengkulu sehingga dapat mendorong tumbuhnya regenerasi pengrajin muda asli Bengkulu.

Penulis : Rainci Maliati, mahasiswa Magister Komunikasi UNIB

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments